Kamis, 05 Juni 2014



Nama  : Kevin sura
Kelas    :  MB 4
Nim      :  1311702
Tugas   : final
Mata pelajaran : PKN

Kompas , jumat 30 mei 2014
JAKARTA, KOMPAS — Peningkatan impor bahan makanan dan barang pada triwulan II-2014 mulai menekan nilai tukar rupiah. Sepekan terakhir, nilai tukar rupiah masih berfluktuasi dan cenderung melemah. Kurs rupiah pekan lalu berada pada level Rp 11.560 dan pekan ini Rp 11.613 per dollar AS. Pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, di Jakarta. Kamis (29/5), memperkirakan, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi mulai meningkatnya impor bahan makanan dan barang untuk memenuhi peningkatan kebutuhan masyarakat menjelang Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. ’’Perusahaan-perusahaan mulai menambah stok untuk mengantisipasi peningkatan permintaan masyarakat seperti tahun-tahun sebelumnya. Permintaan dollar AS juga masih tinggi, tidak saja karena impor naik, tetapi juga bersamaan dengan pembayaran utang luar negeri dan repatriasi aset,” kata Lana.

Dari kurs tengah Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah pada Jumat (23/5) masih Rp 11.560 per dollar AS, kemudian melemah menjadi Rp 11.633 per dollar AS pada Senin, dan menguat tipis menjadi Rp 11.613 per dollar AS pada Rabu (28/5). Pengusaha yang akan bertransaksi dengan pengusaha di luar negeri tidak bisa sekaligus membeli dollar AS sesuai.kebutuhan, tetapi melakukannya bertahap karena aturan pembatasan. Dengan kondisi itu, permintaan dollar AS cenderung tetap tinggi sehingga nilai rupiah tertekan.

Pasokan dollar AS naik

Lana melihat pelemahan nilai rupiah sepekan ini tidak terjadi karena faktor tunggal permintaan domestik atas dollar AS yang relatif tinggi. Namun, itu merupakan dampak kombinasi dengan faktor eksternal, seperti ketegangan di Thailand dan konflik beberapa negara di Asia Timur. Pelemahan nilai rupiah itu justru terjadi saat pasokan dollar AS ke dalam negeri cukup tinggi. Di pasar saham saja, pada Mei ini masuk investasi sebesar 750 juta dollar AS setelah sepanjang April masuk 765 juta dollar AS. Investor mencatat pembelian bersih di Bursa Efek Indonesia Rp 114,5 miliar pada Rabu lalu sehingga total pembelian bersih mereka tahun ini Rp 40 triliun. Kepemilikan asing di Surat Utang Negara per 23 Mei adalah Rp 394,5 triliun atau 35,7 persen.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, pelemahan nilai rupiah itu masih wajar dan merupakan pengarah dari perdagangan saja. ”Di level sekarang ini masih wajar karena saat ini periode pengusaha mancanegara membayar dividen dan pembayaran utang luar negeri. Namun, memang tidak bisa dihindari pengarah dari cara pandang berbagai hal yang terjadi,” kata Mirza. Sentimen bisa datang dari faktor pemilihan presiden, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, dan pengaruh kawasan Asia Tenggara. Pasar keuangan Indonesia yang belum dalam menyebabkan nilai rupiah mudah berfluktuasi jika ada sentimen.

Padahal, menurut Mirza, ekspektasi terhadap Indonesia seharusnya lebih baik karena saat ini cadangan devisa naik dari 102,6 miliar dollar AS menjadi 105,6 miliar dollar AS. Itu cukup untuk membiayai 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Rasio cadangan devisa dan impor itu jauh lebih tinggi dibandingkan standar internasional 3 bulan impor.

Empat masalah dalam artikel ini adalah
1.      Pelemahan nilai tukar rupiah
Peningkatan impor bahan makanan dan barang pada triwulan mulai menekan nilai tukar rupiah. Dalam sdepekan terakhir nilai tukar rupiah madsih berfluktuasi dan cenderung melemah. Kurs rupiah pekan lalu berada pada level Rp 11.560 dan pekan ini Rp 11.613 per dollar AS
Solusi yang paling tepat yang diambil oleh pemerintah dalam menjaga nilai mata uang kita adalah investasi emas. Kapanpun emas akan selalu stabil, walaupun pernah turun sesaat. Hal tersebut bukan berarti harga emas tidak stabil. Untuk melakukan investasi tentunya bukan di hitung dalam waktu yang singkat saja, tetapi investasi bisa dikatakan benar – benar investasi kalau kita menghitung dalam jangka yang lama, menjaga stabilitas harga dan mengamankan neraca perdagangan.
Selain itu, BI harus berusaha untuk membuat rupiah lebih menarik dengan menaikkan Fasilitas Bank Indonesia (Fasbi) minimal 100 basis point.
Pemerintah juga harusd medngambil  kebijakan ini
Pertama, memperbaiki defisit transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar dengan mendorong ekspor dan keringanan pajak kepada industri tertentu
Kedua menjaga pertumbuhan ekonomi. Pemerintah akan memastikan defisit APBN-2013 tetap sebesar 2,38% dan pembiayaan aman. 
Ketiga menjaga daya beli. Pemerintah berkoordinasi dengan BI untuk menjaga gejolak harga dan inflasi dengan mengubah tata niaga daging sapi dan hortikultura, dari impor berdasarkan kuota menjadi mekanisme impor dengan mengandalkan harga.
Keempat mempercepat investasi. Pemerintah akan mengefektifkan sistem layanan terpadu satu pintu perizinan investasi. 

2.      Meningkatnya jumlah impor barang
Penyebab melemahnya nilai tukar rupiah akibat meningkatnya jumlah impor barang dan bahan makanan. Perusahaan- perusahaan mulai mednanmbah stok untuk mengantisipasi peningkatan permintaan masyarakat menjelang ramadhan dan idul fitri.
Solusi
pemerintah  menaikkan pajak bea masuk barang yang dibeli dari luar negeri dan pemerintah juga membuat program swasembada pangan agar masdyarakat tidak ketergantungan ke Negara lain

3.      Pasokan dollar AS meningkat
Jumlah permintaan dollar AS meningkat, hal ini dipicu karena pada Mei ini masuk investasi sebesar 750 juta dollar AS setelah sepanjang April masuk 765 juta dollar AS. Investor mencatat pembelian bersih di Bursa Efek Indonesia Rp 114,5 miliar pada Rabu lalu sehingga total pembelian bersih mereka tahun ini Rp 40 triliun. Kepemilikan asing di Surat Utang Negara per 23 Mei adalah Rp 394,5 triliun atau 35,7 persen.
Melemahnya nilai tukar rupiah dalam tiga bulan terakhir ini disebabkan minimnya ketersediaan dolar AS di tengah tingginya permintaan. Nilai rupiah terhadap dolar AS lebih karena masalah suplai dan permintaan fisik dolar AS di pasar keuangan. Permintaan dolar AS tinggi untuk impor, ekspor migas nonmigas, dan pembayaran utang swasta, tapi suplai terbatas





4.      Permintaan pengusaha akan dollar AS meningkat
Permintaan akan dollar AS meningkat menjelang bulan ramadhan para pengusaha-pengusaha mulai mengimpor barang untuk mengatasi jumlah permintaan menjelang bulan ramadhan. Pengusaha tidak bisa bertransaksi dengan pengusaha di negara lain jika tidak menggunakan dollar AS
Solusi
Pemerintah sebaiknya turun tangan dalam hal ini, pemerintah dengan mengimbau para pengusaha utuk memakai produk dalam negri