Nama : Kevin sura
Kelas : MB 4
Nim : 1311702
Tugas : final
Mata pelajaran : PKN
Kompas , jumat 30 mei 2014
JAKARTA, KOMPAS — Peningkatan impor bahan makanan
dan barang pada triwulan II-2014 mulai menekan nilai tukar rupiah. Sepekan
terakhir, nilai tukar rupiah masih berfluktuasi dan cenderung melemah. Kurs
rupiah pekan lalu berada pada level Rp 11.560 dan pekan ini Rp 11.613 per
dollar AS. Pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, di
Jakarta. Kamis (29/5), memperkirakan, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi
mulai meningkatnya impor bahan makanan dan barang untuk memenuhi peningkatan
kebutuhan masyarakat menjelang Ramadhan dan hari raya Idul Fitri.
’’Perusahaan-perusahaan mulai menambah stok untuk mengantisipasi peningkatan
permintaan masyarakat seperti tahun-tahun sebelumnya. Permintaan dollar AS juga
masih tinggi, tidak saja karena impor naik, tetapi juga bersamaan dengan
pembayaran utang luar negeri dan repatriasi aset,” kata Lana.
Dari kurs tengah Bank Indonesia (BI), nilai tukar
rupiah pada Jumat (23/5) masih Rp 11.560 per dollar AS, kemudian melemah
menjadi Rp 11.633 per dollar AS pada Senin, dan menguat tipis menjadi Rp 11.613
per dollar AS pada Rabu (28/5). Pengusaha yang akan bertransaksi dengan
pengusaha di luar negeri tidak bisa sekaligus membeli dollar AS
sesuai.kebutuhan, tetapi melakukannya bertahap karena aturan pembatasan. Dengan
kondisi itu, permintaan dollar AS cenderung tetap tinggi sehingga nilai rupiah
tertekan.
Pasokan dollar AS naik
Lana melihat pelemahan nilai rupiah sepekan ini tidak terjadi karena faktor
tunggal permintaan domestik atas dollar AS yang relatif tinggi. Namun, itu
merupakan dampak kombinasi dengan faktor eksternal, seperti ketegangan di
Thailand dan konflik beberapa negara di Asia Timur. Pelemahan nilai rupiah itu
justru terjadi saat pasokan dollar AS ke dalam negeri cukup tinggi. Di pasar
saham saja, pada Mei ini masuk investasi sebesar 750 juta dollar AS setelah
sepanjang April masuk 765 juta dollar AS. Investor mencatat pembelian bersih di
Bursa Efek Indonesia Rp 114,5 miliar pada Rabu lalu sehingga total pembelian
bersih mereka tahun ini Rp 40 triliun. Kepemilikan asing di Surat Utang Negara
per 23 Mei adalah Rp 394,5 triliun atau 35,7 persen.
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara
mengatakan, pelemahan nilai rupiah itu masih wajar dan merupakan pengarah dari
perdagangan saja. ”Di level sekarang ini masih wajar karena saat ini periode
pengusaha mancanegara membayar dividen dan pembayaran utang luar negeri. Namun,
memang tidak bisa dihindari pengarah dari cara pandang berbagai hal yang
terjadi,” kata Mirza. Sentimen bisa datang dari faktor pemilihan presiden,
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, dan pengaruh kawasan Asia Tenggara.
Pasar keuangan Indonesia yang belum dalam menyebabkan nilai rupiah mudah
berfluktuasi jika ada sentimen.
Padahal, menurut Mirza, ekspektasi terhadap
Indonesia seharusnya lebih baik karena saat ini cadangan devisa naik dari 102,6
miliar dollar AS menjadi 105,6 miliar dollar AS. Itu cukup untuk membiayai 6,1
bulan impor atau 5,9 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri
pemerintah. Rasio cadangan devisa dan impor itu jauh lebih tinggi dibandingkan
standar internasional 3 bulan impor.
Empat masalah dalam artikel ini adalah
1.
Pelemahan nilai tukar rupiah
Peningkatan impor bahan makanan
dan barang pada triwulan mulai menekan nilai tukar rupiah. Dalam sdepekan
terakhir nilai tukar rupiah madsih berfluktuasi dan cenderung melemah. Kurs
rupiah pekan lalu berada pada level Rp 11.560 dan pekan ini Rp 11.613 per
dollar AS
Solusi yang paling tepat yang
diambil oleh pemerintah dalam menjaga nilai mata uang kita adalah investasi
emas. Kapanpun emas akan selalu stabil, walaupun pernah turun sesaat. Hal
tersebut bukan berarti harga emas tidak stabil. Untuk melakukan investasi tentunya
bukan di hitung dalam waktu yang singkat saja, tetapi investasi bisa dikatakan
benar – benar investasi kalau kita menghitung dalam jangka yang lama, menjaga
stabilitas harga dan mengamankan neraca perdagangan.
Selain itu, BI harus berusaha untuk membuat rupiah lebih menarik dengan
menaikkan Fasilitas Bank Indonesia (Fasbi) minimal 100 basis point.
Pemerintah juga harusd
medngambil kebijakan ini
Pertama, memperbaiki defisit
transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar dengan mendorong ekspor
dan keringanan pajak kepada industri tertentu
Kedua menjaga pertumbuhan
ekonomi. Pemerintah akan memastikan defisit APBN-2013 tetap sebesar 2,38% dan
pembiayaan aman.
Ketiga menjaga daya beli.
Pemerintah berkoordinasi dengan BI untuk menjaga gejolak harga dan inflasi
dengan mengubah tata niaga daging sapi dan hortikultura, dari impor berdasarkan
kuota menjadi mekanisme impor dengan mengandalkan harga.
Keempat mempercepat
investasi. Pemerintah akan mengefektifkan sistem layanan terpadu satu pintu
perizinan investasi.
2.
Meningkatnya jumlah impor barang
Penyebab melemahnya nilai tukar
rupiah akibat meningkatnya jumlah impor barang dan bahan makanan. Perusahaan-
perusahaan mulai mednanmbah stok untuk mengantisipasi peningkatan permintaan
masyarakat menjelang ramadhan dan idul fitri.
Solusi
pemerintah menaikkan pajak bea masuk
barang yang dibeli dari luar negeri dan pemerintah juga membuat program swasembada
pangan agar masdyarakat tidak ketergantungan ke Negara lain
3.
Pasokan dollar AS meningkat
Jumlah permintaan dollar AS
meningkat, hal ini dipicu karena pada Mei ini masuk investasi sebesar 750 juta
dollar AS setelah sepanjang April masuk 765 juta dollar AS. Investor mencatat
pembelian bersih di Bursa Efek Indonesia Rp 114,5 miliar pada Rabu lalu
sehingga total pembelian bersih mereka tahun ini Rp 40 triliun. Kepemilikan
asing di Surat Utang Negara per 23 Mei adalah Rp 394,5 triliun atau 35,7
persen.
Melemahnya nilai tukar rupiah
dalam tiga bulan terakhir ini disebabkan minimnya ketersediaan dolar AS di
tengah tingginya permintaan. Nilai rupiah terhadap dolar AS lebih karena
masalah suplai dan permintaan fisik dolar AS di pasar keuangan. Permintaan
dolar AS tinggi untuk impor, ekspor migas nonmigas, dan pembayaran utang
swasta, tapi suplai terbatas
4.
Permintaan pengusaha akan dollar AS meningkat
Permintaan akan dollar AS
meningkat menjelang bulan ramadhan para pengusaha-pengusaha mulai mengimpor
barang untuk mengatasi jumlah permintaan menjelang bulan ramadhan. Pengusaha tidak
bisa bertransaksi dengan pengusaha di negara lain jika tidak menggunakan dollar
AS
Solusi
Pemerintah sebaiknya turun
tangan dalam hal ini, pemerintah dengan mengimbau para pengusaha utuk memakai
produk dalam negri